Sejarah Pesantren Nurul-Huda Depok

  • Yayasan Pesantren dan Madrasah Nurul Huda mulai secara formal dikenal sejak tahun 1972, meskipun aktivitasnya sebagai lembaga pendidikan Islam bahkan sudah dilakukan dalam bentuk informal sebelum itu (sekitar 1956-1972)
  • Model pendidikan awalnya menggunakan sistem Santri Kalong: siang hari santri belajar di sekolah formal (SD atau jenjang serupa) di luar pesantren, sedangkan malam harinya mereka belajar agama Islam di Nurul Huda. Ada juga santri yang langsung belajar di madrasah Nurul Huda setelah sekolah dasar.
  • Pondok Pesantren Nurul Huda Rumbut merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam tertua dan berpengaruh di wilayah Kota Depok, khususnya di kawasan Pasir Gunung Selatan, Kecamatan Cimanggis. Sejak awal berdirinya pada tahun 1972, pesantren ini telah berperan besar dalam mencetak generasi Muslim yang berakhlak mulia, berilmu, dan berdedikasi bagi masyarakat.
  • Didirikan oleh KH. Muhammad Thoyalisi Rasyad, Pondok Pesantren Nurul Huda tumbuh dari semangat dakwah dan pendidikan di tengah masyarakat yang kala itu membutuhkan lembaga Islam yang kuat, terarah, dan berakar pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama‘ah.
  • Pendiri: KH. Muhammad Thayalisi Rasyad.
  • Alamat: Jl. Pesantren No.2, Kampung Rumbut, RT 006/009, Kelurahan Pasir Gunung Selatan, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat.
  • Luas tanah: Awalnya 3.245 m² yang statusnya wakaf (SHM Wakaf No. 083).
  • Bangunan seluas sekitar 1.550 m².
  • Lembaga ini dikelola oleh Yayasan Pesantren dan Madrasah Nurul Huda.
  • Mereka menjalankan berbagai unit pendidikan Islam formal dan non-formal, meliputi:
    • RA (Raudhatul Athfal) Nurul Huda
    • Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Huda
    • Madrasah Tsanawiyah (MTs) Nurul Huda
    • Madrasah Aliyah (MA) Nurul Huda
    • Pondok Pesantren Nurul Huda (riil asrama/boarding)
    • Panti Asuhan Nurul Huda
    • Balai Latihan Kerja Komunitas (BLKK) dengan jurusan Teknologi Informasi dan Komunikasi
  • Dalam hal legalitas:
    • Nadzir (pengelola wakaf) adalah Yayasan Nurul Huda.
    • Pengesahan dari Badan Wakaf Indonesia Provinsi Jawa Barat (No. 085/BWI/NZ-1.2/III/2019).
    • Surat pengesahan dari Kantor Urusan Agama Kecamatan Cimanggis pada 27 Agustus 2019.

Kampung Perigi adalah nama lain dari Kampung Rumbut. Orang Tua kita,      H. Mari adalah seorang tokoh agama dan tokoh masyarakat yang hidup di zamannya dan berkeinginan keras agar putra dan putrinya kelak menjadi anak yang sholah dan sholehah berbakti kepada kedua orang tua, Nusa, Bangsa dan Agamanya. Sejalan dengan keinginan kerasnya H. Mari didukung oleh putra dan putrinya antara lain H. Maat yang telah memprakarsai dalam mewujudkan keinginannya yang lebih jauh agar para cucu dan cicitnya juga menjadi anak yang Sholeh dan Sholehah dikemudian hari. Maka suatu terobosan yang sangat mendasar, sekalipun dilingkungan Kampung Rumbut belum ada orang yang alim dan pintar namun ada upaya untuk mendatangkan para guru dan ulama dari luar Kampung Rumbut.

Ulama tersebut antara lain, Ust. H. Syafi’i, Ust. Jamaludin, Ust. H. Hamzah, Ust. H. Damiri dan   Ust. Pada tahun 1971 hadirlah Ust. H. Muhammad Badri dari Bekasi dengan perantara H. Muhammad Amrin yang juga sebagai menantu dari H. Mari Bin Sa’an didatangkan untuk melanjut perjuangan keluarga H. Mari Bin Sa’an dalam mengembangkan keagamaan di Kampung Rumbut. Selanjutnya karena Ust. H. Muhammad Badri berstatus sebagai pegawai Guru Agama di Bekasi, maka Ust. H. Muhammad Badri mendatangkan Ust. H. Ahmad Juaini Thoyalisi dan Pada tahun 1972 hadirlah Orang Tua beliau yaitu KH. Muhammad Thayalisi Rasyad, sebagai Guru Agama dan pejuang Hizbullah.

Tidak kalah pentingnya tokoh masyarakat antara lain Bpk.H.Abdus Salam, Bpk. H. Misan, Bapak wakil Jamin Acim, Bpk. Alamlah dan Bpk. Inta Supiarta. Dari kalangan pemuda yang terlibat di dalamnya adalah H.Uci sanusi, yang pada tahun 1985 menjadi Kepala Desa Pasir Gunung Selatan. Tokoh pemuda lain yang turut berperan adalah Bpk. Sunarso, H.Abdul Latif, Muhamad (Tobing), Sulaiman Naih dan Abdul Hamid. Kegiatan pendidikan ini berawal dari Madrasah Diniyah, sebuah lembaga sederhana yang fokus pada pengajaran dasar-dasar agama Islam seperti membaca Al-Qur’an, fikih, akidah, dan akhlak. Kelas-kelas belajar dilaksanakan di rumah warga dengan sarana yang sangat terbatas, namun penuh semangat keikhlasan dan pengabdian.

Memasuki tahun 1975, lembaga ini mengalami perkembangan signifikan. Atas dasar kebutuhan masyarakat dan dukungan pemerintah, madrasah diniyah tersebut kemudian dikembangkan menjadi Madrasah Ibtidaiyah, sesuai dengan ketentuan Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri (Menteri Agama, Menteri Pendidikan dan Menteri Dalam Negeri) tentang penyelenggaraan pendidikan agama di sekolah-sekolah. Sejak saat itu, pendidikan Islam di Kampung Rumbut menjadi lebih terstruktur dan diakui secara resmi oleh pemerintah. Periode inilah yang menjadi fondasi utama berdirinya Pondok Pesantren Nurul Huda Rumbut, yang kemudian terus tumbuh menjadi pusat pendidikan Islam yang berpengaruh di wilayah Cimanggis, Depok, dan sekitarnya.

Madrasah Ibtidaiyah Nurul Huda tahun berdiri          1975. Pendiri. Bapak KH. Muhammad Thayalisi Rasyad. NSM: 111232760019. Terakreditasi A: No. SK. 1347/BAN-SM/SK/2021. Tanggal : 08 Desember 2021. NPSN : 60709959. Alamat    Madrasah: Jl. Pondok Pesantren, No. 2, Kp. Rumbut, RT. 006/009, Kelurahan Pasir Gunung Selatan, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok 16451. Kepala Madrasah Pertama         : Bapak H. Ahmad Juaini Th.             Kepala Madrasah Kedua: Bapak Ahmad Baihaqi. Kepala Madrasah Ketiga      : Bapak Aswad Hamid. Pjs Kepala Madrasah: Ibu Yuliwati, M.Pd.. Kepala Madrasah Keempat: Ibu Hj. Rosidah, S.Pd.

Setelah terbentuknya Madrasah Ibtidaiyah Nurul Huda pada tahun 1975, kegiatan pendidikan di Kampung Rumbut semakin berkembang pesat. Kehadiran KH. Thayalisi Rasyad sebagai sesepuh dan pengasuh memberikan arah yang lebih jelas dan luas dalam pengelolaan lembaga. Beliau tidak hanya memperkuat sistem pembelajaran agama, tetapi juga membina akhlak dan kemandirian para santri agar kelak mampu menjadi kader dakwah di tengah masyarakat. Pada periode ini, lembaga mulai dikenal masyarakat luas di wilayah Cimanggis dan daerah sekitarnya. Banyak anak-anak dari kampung sekitar seperti Pasir Gunung Selatan, Tugu, dan Pekayon Jakarta Timur yang bergabung untuk menimba ilmu agama di madrasah ini. Dukungan masyarakat pun terus meningkat, baik dalam bentuk tenaga, moral, maupun dana gotong royong untuk memperluas bangunan dan memperbaiki fasilitas belajar. Memasuki awal tahun 1980-an, atas bimbingan KH. Thayalisi Rasyad dan tokoh-tokoh masyarakat sekitar, kegiatan pendidikan mulai diarahkan pada pembentukan pondok pesantren dengan sistem santri mukim. Beberapa santri dari luar daerah mulai berdatangan untuk belajar agama secara lebih mendalam. Dengan semakin banyaknya santri mukim, pada tahun-tahun ini dibangun asrama sederhana dari papan dan bambu di sekitar kompleks madrasah. Sistem pembelajaran pun diperluas dengan penambahan program Madrasah Tsanawiyah dan pengajian kitab kuning untuk santri tingkat lanjut. Langkah ini menandai transformasi penting: dari lembaga madrasah sederhana menjadi pondok pesantren terpadu, yang tidak hanya mengajarkan ilmu agama dasar, tetapi juga mengasuh dan membentuk karakter santri melalui kehidupan pesantren sehari-hari. Untuk memenuhi kebutuhan pendidikan yang terus berkembang, pesantren membuka jenjang lanjutan yaitu Madrasah Tsanawiyah (MTs) Nurul Huda.

MTs Nurul Huda Rumbut  yang didirikan pertama kali 8 April 1981 dan mulai terdaftar akreditasi nya pada tgl 23 Januari 1990 dengan sk pendirian dibawah naungan kementerian Agama Kota Depok. NSM: 1212327600013. NPSN: 20279698. No. Telp: 021-87716811. E-mail: mtsnurulhuda72 @yahoo.com.  Tanggal Operasioanl            : 23 Januari 1990

   No Sk Operasioanl: W.i.HK.008/55/1990. Akreditasi: A. Tanggal Akreditas:8 Desember 2021. No Sk akreditasi: 1347/BAN-SM/SK/2021. Kepala Madrasah pertama Bapak Ahmad Juaini, TH. Kepala Madrasah Kedua Bpk Abdul Choir, A.Md. Kepala Madrasah ketiga Bpk. Ahmad Ismail, S.Pd.I., dan kepala Madrasah ke-empat Ibu Muning Sri Ningsih, M.Pd.

Atas dasar kebutuhan masyarakat pula didirikan Raudhatul Athfal (RA) Nurul Huda  oleh Bapak Thayalisi Rasyad  pada Bulan Maret Tahun 1983. RA ini didirikan berdasarkan Akta Pendirian dengan nomor register 51003276001 yang dikeluarkan oleh Notaris Adam. Tapi seiringnya waktu berjalan dan aturan yang mengharuskan sebuah yayasan itu harus dikuatkan dengan payung hukum Kemenkumham, maka pada tanggal 22 Januari 2015 dirubahlah Akta Notaris No.4   dan SK Kemenkumham No. AHU-0000859.AH.01.04  Tahun 2015. Kepala RA pertama Sri Hartini dan Kepala RA ke-dua Tuti Novita dan Kepala RA ke-tiga Siti Rohana, S.Pd.

Periode ini merupakan masa konsolidasi lembaga di bawah bimbingan KH. Thayalisi Rasyad dan para pengurus yang semakin terorganisir. Dengan semangat gotong royong dan keikhlasan, pesantren mulai memperkuat manajemen dan memperluas jangkauan pendidikannya. Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Raudhotul Athfal (RA) yang telah berdiri sebelumnya terus beroperasi secara resmi di bawah naungan Kementerian Agama, sementara kegiatan diniyah dan pengajian kitab tetap menjadi ciri khas utama.

Lebih lanjut untuk memenuhi kebutuhan pendidikan yang terus berkembang, pesantren membuka jenjang lanjutan yang lebih tinggi yaitu berdirinya Madrasah Aliyah Nurul Huda dengan izin operasional: No. SK Operasional: 3/10/10/19/18/052/87. Tanggal operasional sekolah mulai 26 Oktober 1987. NSM (Nomor Statistik Madrasah): 131232760003. NPSN: 20277168. Kepala Sekolah pertama Bpk. M. Parkum BA. Kepala Sekolah kedua Bapak Ahmad Juaini, Th. Kepala Sekolah ke-tiga Bapak Ahmad Fauzi, Th. Kepala Sekolah ke empat Siti Nuryati, S.Pd. dan Kepala Sekolah ke-lima Dayat S.Ag. Pada masa ini pula, pesantren mulai menjalin kerja sama dengan berbagai lembaga pendidikan dan tokoh masyarakat untuk meningkatkan mutu pengajaran.

Pada tahun 1987 ini pula Bapak Ahmad Juaini melakukan pengembangan pesantren ke Desa Tanjung Ratu Kecamatan Pakuan Ratu Lampung Utara, yang selanjutnya dikelolah oleh Bapak Badrudin, dkk.  Pada tahun 1989 beliau juga melakukan perintisan berdirinya Pondok Pesantren Nurul Huda di Kasmaran Kecamatan Babat Toman Musi Banyuasing, yang selanjutnya di kelola oleh adinda Endang Hilwan Yusuf dan Siti Mudiah.

Selain penguatan akademik, pesantren juga menanamkan nilai-nilai kedisiplinan, kesederhanaan, dan tanggung jawab sosial. Santri tidak hanya dididik agar cakap dalam ilmu agama, tetapi juga dibimbing agar mampu hidup mandiri, membantu masyarakat, dan menjadi panutan di lingkungannya. Fasilitas pesantren secara bertahap terus diperbaiki. Beberapa ruang kelas permanen dibangun, mushala diperluas menjadi masjid pesantren, dan sarana asrama santri diperbaiki agar lebih layak. Semangat kebersamaan antara pengasuh, guru, dan santri menjadi kekuatan utama dalam menghadapi keterbatasan. Pada tahun 1993 KH.Thayalisi Rosyad tutup usia. Perjuangan dilanjutkan oleh para putranya: Ahmad Juaini, yang bertanggung jawab di Yayasan. Ahmad Fauzi bertanggung jawab dalam mengelola Panti asuhan dan Pondok Pesantren dan Drs. Muhamad Mujahid bertanggung jawab dalam bidang pendidikan.

Pada akhir dekade 1990-an hingga awal 2000-an, Pondok Pesantren Nurul Huda Rumbut mulai dikenal lebih luas. Jumlah santri meningkat signifikan, baik santri mukim maupun non-mukim. Untuk memenuhi kebutuhan pendidikan yang terus berkembang, pesantren membuka jenjang lanjutan yaitu Madrasah Aliyah (MA) Nurul Huda, yang terdaftar resmi di Kementerian Agama Republik Indonesia. Dengan demikian, sistem pendidikan di lingkungan pesantren menjadi lengkap mulai dari tingkat dasar hingga menengah atas. Pada masa ini pula, Yayasan Pendidikan Islam Nurul Huda Rumbut dibentuk sebagai badan hukum yang menaungi seluruh unit pendidikan, dengan tujuan memperkuat administrasi, legalitas, dan tata kelola lembaga. Berbagai kegiatan ekstrakurikuler dan sosial juga mulai dikembangkan, seperti pramuka santri, olahraga, seni islami, pelatihan keterampilan, dan kegiatan dakwah ke masyarakat sekitar.

Memasuki era modern, Pondok Pesantren Nurul Huda terus berbenah mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan jati dirinya sebagai lembaga tradisional yang berpegang pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama‘ah. Kurikulum pendidikan diperluas dengan penguatan bidang teknologi informasi, kewirausahaan santri, serta tahfidz Al-Qur’an. Sistem administrasi juga mulai didigitalisasi untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan lembaga. Fasilitas pendidikan semakin lengkap: ruang kelas permanen, laboratorium computer (BLK) Pondok Pesantren, perpustakaan, asrama santri putra dan putri, serta aula serbaguna untuk kegiatan keagamaan dan sosial. Santri Nurul Huda kini tidak hanya berasal dari Depok dan sekitarnya, tetapi juga dari berbagai daerah di Indonesia. Alumni pesantren telah banyak berkiprah sebagai guru, ustaz, dai, ASN dan anggota DPRD sertan tokoh masyarakat di berbagai wilayah. Dengan semangat “Ikhlas Berjuang Demi Ilmu dan Agama”, Pondok Pesantren Nurul Huda Rumbut terus meneguhkan diri sebagai lembaga pendidikan Islam yang mencetak generasi beriman, berilmu, dan berakhlak mulia.

Pondok pesantren memiliki peran strategis dalam mencetak generasi berakhlak mulia dan berwawasan keislaman yang kuat. Namun, di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat, santri dihadapkan pada tantangan baru: bagaimana mengintegrasikan pendidikan keagamaan dengan pendidikan tinggi formal agar mampu berkontribusi lebih luas di masyarakat. Kebutuhan akan santri yang tidak hanya memahami ilmu agama, tetapi juga memiliki kompetensi akademik dan profesional di berbagai bidang, menjadi dasar penting bagi upaya perluasan akses pendidikan tinggi.

Dalam konteks tersebut, Pondok Pesantren Nurul Huda Kampung Rumbut di Kelurahan Pasir Gunung Selatan, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok, memandang penting adanya jembatan antara dunia pesantren dan perguruan tinggi. Melalui inisiatif Ibu Sri Rahayu Pudjiastuti pada tahun 2020, gagasan kemitraan dengan perguruan tinggi mulai diwujudkan. Tujuannya tidak hanya untuk membuka kesempatan studi lanjut bagi santri, tetapi juga untuk memberdayakan potensi internal pesantren melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Program kemitraan ini pertama kali terwujud dengan STKIP Kusuma Negara, yang memberikan peluang kepada empat santri Nurul Huda untuk melanjutkan pendidikan tinggi melalui program beasiswa KIP Kuliah. Keberhasilan ini menjadi titik tolak bagi pesantren untuk memperluas jejaring kolaborasi. Dengan dukungan dan keterlibatan alumni pondok, Ibu Aan Nurjanah, program ini berkembang melalui kemitraan lanjutan dengan STKIP Arrahmaniyah bagi angkatan kedua, serta diperluas lagi pada tahun 2024 dengan kerja sama bersama Saintek Muhammadiyah Jakarta.

Menariknya, para santri yang berhasil direkrut dan memperoleh beasiswa KIP Kuliah melalui program kemitraan Pondok Pesantren Nurul Huda tidak hanya berasal dari wilayah Jabodetabek, tetapi juga dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka datang dari Medan, Sulawesi, Bengkulu, Lampung, Ternate, Jawa tengah, Banten, Majalengka, Garut, Pelabuhan Ratu, hingga Sukabumi, mencerminkan luasnya jaringan dan daya tarik pesantren ini sebagai pusat pendidikan Islam yang terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat.

Keragaman asal santri tersebut menunjukkan bahwa Pondok Pesantren Nurul Huda telah bertransformasi menjadi lembaga pendidikan yang inklusif dan berorientasi nasional. Program kemitraan ini tidak hanya membuka akses bagi santri lokal untuk menempuh pendidikan tinggi, tetapi juga menjadi wadah bagi santri dari luar daerah untuk mengembangkan potensi diri melalui jalur akademik. Dengan latar belakang budaya dan daerah yang berbeda-beda, para santri penerima KIP Kuliah turut memperkaya dinamika kehidupan pesantren serta memperluas jejaring intelektual antar-santri di tingkat nasional. Melalui keberagaman ini, Nurul Huda memperlihatkan komitmennya dalam mewujudkan pendidikan Islam yang berkeadilan dan merata, sekaligus mendukung pemerataan kesempatan belajar bagi generasi muda dari berbagai pelosok Nusantara.

Melalui kolaborasi ini, Pondok Pesantren Nurul Huda berkomitmen untuk membangun ekosistem pendidikan berkelanjutan, di mana santri dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi tanpa meninggalkan nilai-nilai pesantren. Kemitraan ini juga menjadi bagian dari upaya pesantren dalam mendukung visi nasional “Santri Cerdas dan Mandiri,” sejalan dengan semangat penguatan link and match antara lembaga pendidikan keagamaan dan dunia akademik.

Pondok Pesantren Nurul Huda Rumbut semakin menegaskan komitmennya dalam memperluas akses pendidikan tinggi bagi para santri. Sejak kerja sama awal dengan STKIP Kusuma Negara Jakarta pada tahun 2020, program ini terus tumbuh menjadi gerakan nyata dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia santri  tidak hanya di bidang agama, tetapi juga di bidang akademik dan sosial.

Program ini dimulai pada tahun 2020, ketika Pondok Pesantren Nurul Huda berhasil memfasilitasi lima orang santriuntuk menerima beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah)diSTKIP Kusuma Negara Jakarta. Keempat santri ini menjadi pionir dalam menjembatani pendidikan pesantren dengan perguruan tinggi. Setelah menempuh studi selama empat tahun, mereka lulus pada tahun 2024 dengan hasil membanggakan. Angkatan pertama ini atas nama Fatur Putra Lintang dan Latifahtus Sa’adah Prodi PPKn STKIP Kusuma Negara. Ihat Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris STKIP Kusuma Negara. Nazla Rizkia Alfisyahrin dan Liskah Wati Prodi PGSD STKIP Arrahmaniyah.  Kesuksesan mereka menjadi inspirasi dan pembuka jalan bagi generasi berikutnya.

Keberhasilan angkatan pertama disusul dengan program angkatan kedua pada tahun 2021, di mana pesantren berhasil memfasilitasi 23 orang santri untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Dari jumlah tersebut, 16 orang diterima di STKIP Arrahmaniyah Depokdan7 orang di STKIP Kusuma Negara Jakarta. Seluruh peserta angkatan kedua ini berhasil menuntaskan pendidikannya dan lulus pada tahun 2025, membawa nama baik pesantren di dunia akademik sekaligus menjadi kader dakwah dan pendidik muda yang siap terjun ke masyarakat. Lulusan tersebut berasal dari satu orang Medan, dua dari Ternate, Tiga Bekasi, Tujuh Bogor, Empat Sukabumi, satu Jakarta, Lima dari penduduk setempat (Depok). Program studi yang ditempuh : Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Matematika dan PGSD dari STKIP Kusuma Negara. Program Studi PPKn, Pendidikan Biologi dan PGSD dari STKIP Arrahmaniyah.

Pada tahun 2022, Pondok Pesantren Nurul Huda kembali memperluas jangkauan program beasiswa dan kemitraannya. Sebanyak 15 orang santri difasilitasi untuk melanjutkan studi  dengan 5 orang diterima di STKIP Arrahmaniyah dan 10 orang di STKIP Kusuma Negara. Program angkatan ketiga ini menandai semakin solidnya kerja sama antara pesantren dan kedua perguruan tinggi tersebut, yang sejalan dengan visi bersama untuk mencetak calon guru dan pemimpin berkarakter Islami.

Tahun 2023 menjadi momentum keberlanjutan yang stabil. Pada periode ini, pesantren kembali memfasilitasi 7 orang santri untuk melanjutkan pendidikan tinggi di STKIP Kusuma Negara Jakarta. Meskipun jumlahnya lebih sedikit dibandingkan angkatan sebelumnya, namun kualitas dan semangat perjuangan para santri tetap tinggi. Mereka melanjutkan tradisi santri berprestasi dengan tetap aktif dalam kegiatan akademik dan sosial keagamaan di kampus.

Tahun 2024 menandai perkembangan signifikan dari program kemitraan ini. Pondok Pesantren Nurul Huda berhasil memfasilitasi sebanyak 28 orang santri untuk melanjutkan pendidikan tinggi di tiga kampus mitra, yaitu:

  • 3 orangdiSTKIP Arrahmaniyah Depok,
  • 8 orangdiSTKIP Kusuma Negara Jakarta, dan
  • 16 orangdiUniversitas Saint Teknologi Jakarta (Saintek).

Masuknya Universitas Saint Teknologi Jakarta (Saintek) sebagai mitra baru menunjukkan perluasan jaringan akademik pesantren ke arah pendidikan teknologi dan sains modern, tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman dan moralitas pesantren. Melalui kolaborasi ini, santri tidak hanya berkesempatan menjadi calon pendidik, tetapi juga ahli dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang bermanfaat bagi umat.

Angkatan Keenam (2025 – sedang berjalan)

Pada tahun 2025, Pondok Pesantren Nurul Huda kembali menorehkan langkah besar dengan memfasilitasi 30 orang santri untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Dari jumlah tersebut:

  • 2 orangditerima diSTKIP Arrahmaniyah Depok,
  • 12 orangdiSTKIP Kusuma Negara Jakarta, dan
  • 16 orangdiUniversitas Saint Teknologi Jakarta (Saintek).

Angkatan keenam ini menjadi bukti nyata bahwa program pendidikan tinggi bagi santri telah berkembang menjadi tradisi akademik tahunan yang konsisten. Pesantren tidak lagi hanya mengirimkan santrinya ke satu atau dua perguruan tinggi, tetapi telah membangun jaringan kolaboratif yang luas dengan berbagai lembaga pendidikan tinggi berbasis Islam dan teknologi.